BERITA

METODE SENSORI INTEGRASI


2019-12-14

Bismillahirrohmaanirrohiim. Pembaca Tribun yang berbahagia, semoga hari ini Jum’at 29.11.2019 lebih baik dari kemarin. Sensori integrasi pertama kali dicetuskan oleh Dr. Ayres, seorang terapis okupasi yang mempunyai dasar pendidikan psikologi dan neurosains. Dr. Ayres mengatakan bahwa ada hubungan antara perilaku anak dengan perkembangan fungsi otaknya. Fungsi luhur otak manusia diantaranya berbahasa, berfikir secara emotif, berkomunikasi secara spontan, kreatif, fleksibel, dan mampu memahami konsep-konsep abstrak. Fungsi luhur otak ini merupakan keterampilan yang harus dikuasai anak dalam setiap tahapan perkembangannya. Teori ini juga menjelaskan bagaimana cara otak menerima atau memproses input-input sensorik (berupa sentuhan, gerakan, kesadaran tubuh dan grafitasinya, penciuman, pengecapan, penglihatan dan pendengaran) dari lingkungan sekitarnya serta bagaimana kita dapat mengamati proses ini dari cara anak bereaksi. Otak yang mempunyai mekanisme sensorik yang baik, akan menghasilkan perilaku dan cara belajar yang adaptif. Sementara, otak yang mengalami disfungsi mekanisme sensori integrasi, akan menghasilkan perilaku dan cara belajar yang mal-adaptif.

Sensori integrasi berarti kemampuan untuk mengolah dan mengartikan seluruh rangsang sensori yang diterima dari tubuh maupun lingkungan, dan kemudian menghasilkan respon yang terarah. Aktivitas fisik yang terarah, bisa menghasilkan respon adaptif yang makin kompleks. Dengan demikian aktivitas otak makin meningkat. Terapi sensori integrasi meningkatkan kematangan susunan saraf pusat, sehingga ia lebih mampu untuk memperbaiki struktur dan fungsinya. Aktivitas sensori integrasi merangsang koneksi sinaptik yang lebih kompleks. Dengan demikian dapat meningkatkan kapasitas untuk belajar. Layanan terapi ini dapat diterapkan pada anak dengan gangguan perilaku (kurang percaya diri, gak berani ngomong  di depan umum, dll), kesulitan belajar, keterlambatan wicara dan keterlambatan perkembangan lainnya.

Melihat peluang tersebut, Rahayu Dewi Kurnianingsih biasa dipanggil “Ayu” atau “Uya”, mahasiswa jurusan kewirausahaan universitas Amikom Yogyakarta sekaligus seorang terapis okupasi, memakai metode sensori integrasi ke dalam bisnisnya.  Pelatihan public speaking dengan brand YCA (Youth Communication Academy) itulah bisnisnya. Pada awal berdirinya, YCA menggunakan metode NLP (Neuro Linguistik Program). Bisnis  ini dibangun dari nol, dimulai dengan mengajukan proposal ke Ristek Dikti melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang Kewirausahaan. Sukses di PKM Kewirausahaan, YCA  juga sukses di ajang  Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) 2018. Dan tahun ini, YCA meraih juara satu kompetisi bisnis mahasiswa Indonesia di Politeknik Negeri Batam.  YCA baru berjalan kurang lebih satu setengah tahun, tapi sudah memiliki omset lebih dari 94 juta rupiah. Para alumni YCA banyak yang berhasil, diantaranya ada yang sukses mempresentasikan ide bisnisnya di depan dewan juri sehingga mendapat juara nasional.  Ada juga yang sukses mempresentasikan skripsinya di depan 3 (tiga) orang dosen penguji dan bahkan ada yang direkrut menjadi Trainer di YCA.

Pelatihan public speking dengan metode sensori integrasi, terdiri dari empat kali pertemuan yang difasilitasi oleh tiga orang trainer dan satu kelas maksimal lima belas peserta. Setiap pertemuan terdiri dari 3 (tiga)  jam pembelajaran sehingga total pembelajaran 12 (dua belas) jam, yang mana dua pertemuan terdiri dari materi komunikasi antar personal dan dua  pertemuan selanjutnya yaitu materi public speaking. Selain pelatihan public speaking, YCA juga melayani inhouse training dan pelatihan sertifikasi. Informasi lebih lanjut tentang YCA dapat diakses di @ycajogja dan ycajogja.com. “Tidak ada orang hebat, yang ada hanyalah orang yang terlatih”. Demikian semoga bermanfaat, aamiin yra. (artikel ini sudah tayang di Tribun Jogja : 29-11-2019)

 

Kaprodi Kewirausahaan

 

Suyatmi, SE., MM.