BERITA

BULLWHIP EFFECT


2019-12-14

 

Bismillaahirrohmaanirrohiim. Pembaca Tribun yang berbahagia, semoga hari ini Jum’at 13.12.19 lebih baik dari kemarin. Kadang kita mengalami kejadian ketika berbelanja di sebuah toko (swalayan), barang yang kita cari habis atau jumlahnya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Hal itu disebabkan persediaan terlalu sedikit atau jumlah pembeli lebih banyak daripada barang yang tersedia. Rasanya sebel banget kaan…. kalau yang dicari dan dibutuhkan tidak tersedia di toko dan harus mencari ke toko yang lain, ditambah lagi barang tersebut segera mau dipakai.

Disisi lain, pihak toko bingung, kira-kira berapa jumlah barang yang harus disediakan di tokonya agar sesuai dengan permintaan konsumen. Kalau  nyetok banyak, butuh tempat untuk menyimpan dan belum tentu langsung laku, sementara kalau mau nyetok sedikit, takut kekurangan dan kehilangan konsumen. Biasanya jumlah permintaan tidak menentu (kadang banyak kadang sedikit). Cenderung sedia barang dilebihkan nggih. Seperti yang dialami oleh salah satu mahasiswa Amikom Prodi Kewirausahaan yang sedang menjalankan bisnis Pomade (salah satu produk untuk menata rambut yang digemari para pria).

Toko akan membeli barang daganganya dari distributor juga tidak menentu jumlahnya. Begitu juga distributor akan mengambil barang dari pabrik tidak menentu juga dan cenderung dilebihkan karena khawatir langganannya akan berpindah ke tempat lain. Barang yang diproduksi pabrikpun akan dilebihkan juga. Dan sampai pesanan bahan baku ke pemasok (supplier) juga dilebihkan. Suatu keadaan yang terjadi dalam rantai pasok (toko, distributor, pabrik, pemasok), dimana permintaan dari konsumen mengalami perubahan, baik semakin banyak atau semakin sedikit, sehingga menyebabkan perubahan (distorsi) permintaan yang kurang akurat dari setiap rantai dalam rantai pasok disebut bullwhip effect.

Seluruh elemen dalam rantai pasok tidak bisa berjalan secara terpisah, tetapi harus merupakan satu kesatuan, sehingga akan menghasilkan sinergi dan pada akhirnya menciptakan efisiensi dan efektivitas. Untuk itu dibutuhkan kerjasama dan informasi untuk mengestimasi tingkat persediaan yang akurat. Estimasi permintaan kebutuhan persediaan dipicu oleh permintaan pembeli pengguna akhir (konsumen). Seringkali informasi tentang permintaan konsumen terhadap suatu produk relatif stabil dari waktu ke waktu namun order dari toko ke distributor dan dari distributor ke pabrik jauh lebih fluktuatif dibandingkan dengan pola permintaan dari konsumen tersebut.

Dampak bullwhip effect diantaranya keputusan penentuan tingkat persediaan tidak akurat, dan perusahaan akan cenderung menyimpan persediaan dalam jumlah besar. Persediaan dalam jumlah besar akan berimplikasi pada peningkatan biaya dan waktu tunggu pemesanan (lead time). Peningkatan biaya dan lead time menjadi pemicu utama peningkatan biaya logistik. Peningkatan biaya logistik juga akan memicu struktur biaya tinggi.

Solusi untuk mengurangi bullwhip effect adalah dengan memperbaiki metode dalam memprediksi permintaan barang. Untuk itu dibutuhkan data penjualan dari waktu ke waktu (data historis) dan harapannya pada bulan yang sama akan terjadi permintaan yang kurang lebih sama. Cara kedua dengan membuat rantai pasok lebih transparan, dengan menggunakan IT sistem yang canggih, sehingga ada sharing data antara toko, distributor, pabrik dan pemasok. Pada kenyataannya tidak harus canggih, yang penting saling percaya (trust). Misal si sales aktif menanyakan kepada pemilik toko, kira-kira bulan depan butuh berapa barang. Ketiga dengan konsep manajemen permintaan (demand management), yaitu kita yang aktif mempengaruhi konsumen dengan memberi insentif berupa pengurangan biaya kepada konsumen. Demikian semoga bermanfaat, aamiin YRA. (Artikel ini sudah tayang di Tribun Jogja : 13-12-2019)

 

Kaprodi Kewirausahaan

  

Suyatmi, SE., MM.