BERITA

10 SYARAT VISI YANG BAIK


2020-07-03

 

Bismillaahirrohmaanirrohiim. Pembaca Tribun yang berbahagia, semoga hari ini Jum’at 21.02.2020 lebih baik dari kemarin. Menurut Gendro Salim dalam sebuah buku berjudul “Leadership with NLP (Neuro Linguistik Programming), Menjadi Pemimpin yang Efektif dengan Hati”, Visi adalah sebuah outcome, yakni tujuan yang hendak dicapai di masa depan. Visi juga bisa diartikan sebagai  sebuah impian. Tidak ada seorang pemimpin yang tidak punya visi. Salah satu tugas seorang pemimpin membuat visi atau impian. Setiap rumah di seluruh dunia ada komputer, itu  visi dari Bill Gits pendiri microsofot. Microsoft merupakan  perusahaan komputer global yang telah sukses menguasai pasar dunia. Dan sekarang bisa dilihat, satu rumah hampir sudah ada komputernya. Contoh visi yang lain, “Menjadi program studi kewirausahaan unggulan dunia dalam bidang ekonomi kreatif yang berbasis TIK dengan menebar kebajikan tahun 2030”, itu visi dari Program Studi S1-Kewirausahaan Universitas Amikom Yogyakarta.

Bagaimana membuat visi yang baik? Visi yang baik adalah yang Well Formed Outcome (WFO). WFO merupakan sebuah rumusan kesuksesan yang dapat diimplementasikan dalam meraih cita-cita atau impian. Untuk membuat sebuah visi yang Well Formed Outcome (WFO), harus memenuhi berbagai syarat, diantaranya, pertama evidence (memiliki bukti yang menjadi dasar sebuah pemikiran). Contohnya saya ingin menjadi dosen, apakah sebelumnya sudah pernah ada seseorang yang menjadi dosen. Contoh lain, saya ingin memiliki bisnis, tapi belum mempunyai modal, pengalaman, uang, dan masih status mahasiswa. Apakah sudah ada pengusaha sukses memiliki masalah yang sama dengan apa yang kita pikirkan. Kedua fulfillment (kepuasan setelah mencapainya). Bila merasa puas sebesar 50% setelah keinginan itu tercapai, kemungkinan besar impian itu tidak akan terwujud. Oleh karena itu kepuasan haruslah sesuatu yang benar-benar diinginkan dan berasal dari diri sendiri. Ketiga motivation (apa motivasi dalam membuat impian tersebut). Motivasi yang baik, tidak hanya berorientasi duniawi saja tapi juga berorientasi akherat. 9 dari 10 startup gagal, karena mereka tidak memiliki nobel purpose (tujuan mulia).

Keempat ungkapkan dalam kalimat positif (state the outcome in positive term). Pikiran manusia lebih mudah menerima kalimat positif. Hindari menggunakan kata negatif seperti “tidak, jangan”. Niat positif, tujuan positif, Insya Allah hasilnya luar biasa. Contohnya saya ingin menjadi dosen Prodi Kewirausahaan yang dapat mendidik mahasiswanya menjadi seorang pengusaha sukses. Kelima, memiliki tolok ukur atau bukti indrawi yang jelas (have a sensory based evidence procedure). Tolok ukur yang dapat dilihat, didengar, dan dirasakan. Keenam, tetapkan langkah awal (define the firs step). Dengan menetapkan kapan langkah awal dilakukan membuat outcome menjadi lebih cepat terwujud. Ketujuh, memiliki sumber daya (have access to resources). Sumber daya akan mempercepat tercapainya outcome. Jika sumber daya yang dibutuhkan belum ada, dapat mengajak berpartner dengan yang lainnya.

Kedelapan, pastikan bahwa outcome berada dalam kendali (ensure the outcome is within your control). Artinya putuskan secara sadar apa yang menjadi cita-cita atau goal kita. Karena kalau hanya sebatas keinginan, keinginan itu dapat berubah setiap saat. Kesembilan, diupayaan se-spesifik mungkin (be as specific possible), misalnya kapan akan diwujudkan, dimana, dengan siapa, berapa banyak jumlahnya, dll. Kesepuluh, mempertimbangkan keselarasan (check the outcome is ecologically sound). Pastikan apa yang menjadi goal telah dipertimbangkan dengan baik agar tetap selaras. Demikian semoga bermanfaat, aamiin YRA. (Artikel ini telah tayang di : 21.02.2020).

 

Kaprodi Kewirausahaan

Suyatmi, S.E., M.M.