BERITA

SCALING-UP


2020-08-31

 

Bismillahirrohmaanirrohiim. Pembaca Tribun yang berbahagia, semoga hari ini Jum’at 08.05.2020 lebih baik dari kemarin. Yuswohadi dalam situs https://www.yuswohady.com/ mengatakan : 1) 74% startup di Silikon Valley Amerika Serikat gagal karena tak mampu membesarkan diri (premature scaling) alias layu sebelum berkembang. 2) sebagian besar UKM (Usaha Kecil Menengah) di Indonesia adalah “Perusahaan Bonsai”, dimana sepanjang hayatnya kecil melulu nggak pernah kunjung membesar karena tak tahu dan tak mampu melakukan scaling-up. Sementara menurut wartaekonomi.com, 90% startup di Indonesia gagal dalam mengembangkan bisnisnya, hal ini dikarenakan tidak menghadirkan solusi yang benar-benar baru atau inovatif dalam menjawab kebutuhan masyarakat. “Sifatnya masih ikut-ikutan, kalau dengar ada yang berhasil baru buat”.

            Ada 3 (tiga) tahapan bisnis, yaitu start-up, grow-up dan scale-up (Alim Mahdi). Bisnis pada tahap start-up fokus mengejar penjualan atau omset dengan model bisnis yang sudah divalidasi dan diuji coba.  Grow-up berfokus membangun team dan sistem, dengan menerapkan sistem manajemen SDM (Sumber Daya Manusia) dan sistem penjaminan mutu yang baik. Tahap scale-up membangun aset dengan melipatgandakan pendapatan. Banyak pengusaha yang masih tahap start-up loncat ke tahap scale-up tanpa melewati tahapan grow-up akhirnya bisnisnya gagal. Ada juga pengusaha yang saat usahanya mulai berkembang kemudian buka cabang dimana-mana, akhirnya bisnisnya berguguran, hartanya habis bahkan meninggalkan hutang di bank. Gara-gara lupa membangun sistem dan terjebak di tahap start-up.  

Agar dalam melaksanakan scalling-up sukses ada 2 faktor  yang harus dipenuhi, masing-masing dari internal perusahaan dan eksternal. Dari internal yaitu bisnis yang kita bangun harus memiliki skala ekonomi (projected economies of scale). Skala ekonomi terjadi jika biaya per satuan atau biaya per unit turun ketika output perusahaan bertambah besar. Bisnis yang mengalami hal ini disebut bisnis tersebut scalable. Contohnya, ketika membangun bisnis Facebook dan WhatsApp itu dibutuhkan investasi yang sangat besar. Begitu aplikasi itu jadi, biaya pemakaian untuk seribu, sejuta, bahkan semiliar pengguna dibutuhkan biaya yang praktis nol. Faktor eksternal, harus memiliki pasar yang cukup besar (large addressable market) untuk tumbuh. Bisnis kita tidak akan bisa besar jika market size dari industri yang dimasuki kecil. Agar bisa scaling-up, kita harus memastikan bahwa total potensi market size  harus sangat besar. Raksasa digital seperti Fb, WA, google awalnya adalah UKM.

Pendekatan yang bisa digunakan untuk melakukan scale-up bisnis meliputi aspek manajerial dan aspek leadership & attitude. Aspek manajerial dengan cara 1) membentuk tim terbaik. Kita tidak dapat melakukan semua hal sendirian. Beberapa hal lebih baik dikerjakan oleh orang lain yang memiliki keahlian lebih tinggi dari kita. 2) bangun personal brand yang kuat. 3) bangun sistem yang baik dengan menerapkan kebijakan-kebijakan secara sistematis. Misalkan membuat Standart Operasional Prosedure (SOP), membuat pemberian dan pembatasan wewenang terhadap karyawan, membuat panduan mengenai retur dan komplain pelanggan. 4) temukan dan jalin jaringan bisnis untuk mendapatkan peluang-peluang baru. 5) carilah investor yang tepat.

Aspek Leadership dan Attitude. Bisnis bukan hanya tentang kerapihan, keteraturan, cash flow dan terobosan. Bisnis juga tentang dukungan, rasa, value, budaya, sikap, hubungan dan perilaku para stakeholder. Apalagi dalam konteks ke Indonesiaan, aspek leadership seyogyanya menjadi “imam” bagi aspek yang lainnya. Jangan terjebak kepada hitungan angka dan mengabaikan attitude serta interaksi orang-orang di dalamnya. Demikian semoga bermanfaat, aamiin yra. (Artikel ini telah tayang di Tribun, 08.05.2020).

Kaprodi Kewirausahaan

Suyatmi, S.E., M.M.