BERITA

BISNIS MODEL KANVAS


2020-09-27

 

Bismillaahirrohmaanirrohiim. Pembaca Tribun yang berbahagia, semoga hari ini Jum’at 11.09.2020 lebih baik dari kemarin. Bisnis model kanvas merupakan potret bisnis hanya dalam satu kertas. Satu kertas tersebut dibagi menjadi dua bagian, sisi kanan terdiri dari customer segment, value proposition, customer relationship, channel dan revenue stream. Sementara di sisi kiri terdiri dari key activity, key resource, key partner dan cost structure, sehingga secara keseluruhan ada 9 elemen. Sisi kanan melibatkan otak kanan yang cenderung terkait dengan creativity dan sisi kiri melibatkan otak kiri yang cenderung logic dan detail. Dalam kesempatan pelatihan pendamping wirausaha mahasiswa Kemendikbud beberapa waktu lalu, coach Erry Ismali menambahkan beberapa elemen di dalam kanvas model yang sudah ada. Yaitu di bagian atas ditambahkan core bisnis (sisi kiri) dan brand (sisi kanan), sementara di bagian bawah, ditambahkan competitor (sisi kiri) dan benchmark (sisi kanan).

Baiklah, kita mulai bahas dari elemen pertama, yaitu customer segment. Siapa pasar yang menjadi target dari bisnis kita, harus spesifik.  Dalam menentukan customer segment, ada tiga hal yang harus diidentifikasi yaitu demografi, psikografi dan behavior. Demografi meliputi usia, jenis kelamin, tempat tinggal, pendidikan, lokasi dan ekonomi. Psikografi meliputi interesnya dia, misal olah raga apa, hank-out, dll. Behavior (perilaku/sikap) meliputi impulsive, misal kalau mau beli sesuatu gak pakai mikir karena harganya kurang dari 100ribu. Ngitung-ngitung dulu, misal mau beli property. Cara pembayaran cash atau kredit. Beli sedikit-sedikit atau beli dalam jumlah banyak. Kalau sudah bisa mendeskripsikan customer segment dengan baik, berarti sudah bagus, karena kita bikin produk (barang/jasa), kegiatan marketing dan sebagainya kan untuk customer segment. Semakin sempit atau spesifik customer segment, itu semakin baik.

Element kedua dari bisnis model kanvas adalah value proposition. Empat hal yang harus dideskripsikan dalam menyusun value proposition yang baik, yaitu pain dan gain, spesifikasi, benefit dan value. Pain merupakan masalah atau penderitaan atau kesedihan yang tidak ingin dialami oleh customer segment, gain merupakan harapan dari customer segment. Spesifikasi merupakan sesuatu yang mudah dibandingkan, misalnya harga dan biasaya lembut serta halus.  Benefit merupakan manfaat yang akan didapatkan oleh customer segment secara langsung dan kelihatan. Value merupakan sesuatu yang bisa dirasakan tetapi tidak kelihatan. Misal rasa Percaya Diri (PD), happiness, dll. Value biasanya susah dibandingkan. Contoh produk yang value-nya bagus adalah iphone.

Tahapan berikutnya adalah menentukan customer relationship, yaitu bagaimana produk kita diketahui customer segment, bagaimana mengkomunikasikannya, bagaimana membangun hubungan dengan pelanggan, dan mencari lebih dari sepuluh cara produk diketahui customer segment. Kegiatan tersebut dapat juga disebut dengan soft selling. Untuk hard sellingnya ada di elemen channel, yaitu saluran-saluran penjualan atau tempat bertemunya customer segment dengan value produk kita. Carilah lebih dari sepuluh channel yang cocok dengan customer segment kita.

Sekarang kita beralih ke sisi kiri dari bisnis model kanvas, meliputi aktivitas kunci apa saja yang ada di bisnis kita yang berbeda dengan pesaing. Sumber daya utama apa saja yang dibutuhkan meliputi sumber daya yang kelihatan (tangible) maupun sumber daya yang tidak kelihatan (intangible). Siapa saja partner atau mitra bisnis kita. Terakhir harus menentukan sumber-sumber pendapatan (revenue stream) dan menghitung struktur biaya, baik biaya tetap maupun biaya variabel. Demikian semoga bermanfaat, aamiin YRA. (Artikel ini telah tayang di Tribun, Jumat 11-09-2020).

 

Kaprodi Kewirausahaan

 

Suyatmi, S.E., M.M.