BERITA

BERWIRAUSAHA DIMASA PANDEMI  


2021-03-21

 

 

Bismillaahirrohmaanirrohiim, pembaca Tribun yang berbahagia, semoga hari ini Jum’at 18.12.2020 lebih baik dari kemarin. Hampir 10 bulan (Maret-Desember) Pandemi kita rasakan bersama. Menteri Koperasi dan UKM Bapak Teten Masduki menegaskan, menjadi seorang wirausahawan di masa pandemi covid-19 adalah pilihan yang paling tepat. Alasannya, karena banyak perusahaan yang merumahkan karyawannya. Bahkan, ada yang sudah melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), sumber RMco.id. Rasio kewirausahaan Indonesia mencapai 3,47%, hal itu masih di bawah negara tetangga seperti Singapura (8,76%), Malaysia (4,74%) dan Thailand (4,26%).

Ada 4 (empat) kiat berwirausaha di masa pademi ini, pertama, tentukan dulu apa tujuan mulia membuka usaha. Niat baik membuka usaha itu apa. Kedua, cek geliat pasar atau konsumen. Konsumen saat pademi ini sedang mengalami masalah apa, dan dia cenderung melakukan apa ketika membeli produk. Nah disitu kita berusaha menawarkan solusi terhadap permasalahan konsumen saat ini. Mbak Dewi Lestari, mahasiswa semester 5 (lima) Prodi Kewirausahaan Amikom Yogyakarta, owner dari Dewi Media Lestari menuturkan ketika mengisi acara workshop dengan tema new normal new opportunity let’s startup,  bagaimana dapat survive atau bertahan di masa pandemi ini. Sesuai taglinenya, pusat seminar kit Jogja, maka produk yang ditawarkan meliputi perlengkapan seminar/event. Berhubung pandemi, maka event di kampus maupun instansi-instansi tidak ada lagi, sehingga tidak ada yang pesan dan tidak ada aktivitas produksi. Secara cepat, dewi mempromosikan pembuatan masker kepada pelanggan-pelanggannya. Disamping itu juga pada bulan Ramadhan kemarin, dia sempat menawarkan pakat parcel maupun bantuan sembako. Sampai menawarkan face shield. Kesigapannya menangkap pasar dan diiringi moment yang pas serta doa, akhirnya bisnisnya masih dapat bertahan tanpa merumahkan atau mengurangi jumlah karyawannya.

Kiat ketiga, membuat perencanaan yang matang. Perencanaan yang baik dimulai dari menemukan masalah dan solusinya. Masalah yang akan diangkat harus didukung dengan data yang valid. Sedangkan solusi yang ditawarkan harus nyambung dengan masalahnya, memiliki keunggulan dan keunikan dibanding pesaing. Disini dibutuhkan kreativitas dan inovasi. Langkah berikutnya melalukan validasi pasar (market validation). Salah satu cara melakukan validasi pasar dengan melakukan survey kepada calon target pasar, bagimana pendapatnya tentang solusi yang ditawarkan. Output dari kegiatan validasi pasar adalah data kuantitif. Langkah berikutnya, menghitung berapa ukuran pasar, berapa jumlah calon pembeli produk kita, dan menentukan target berapa persen yang dapat kita produksi dari pasar yang ada. Tidak hanya masalah, solusi, validasi pasar dan menghitung ukuran pasar yang direncanakan, penting juga untuk membuat gambaran besar dari bisnis kita. Metode yang lazim dipakai oleh pengusaha-pengusaha sukses kelas dunia, dengan Business Model Canvas (BMC)

BMC ditemukan oleh Alexander Osterwalder. Kita dapat mempelajarinya lewat buku karangannya berjudul Business Model Generation. Buku ini merupakan buku wajib bagi mahasiswa Prodi Kewirausahaan Amikom Yogyakarta. Secara garis besar, BMC merupakan metode atau alat bantu untuk menggambarkan sebuah bisnis hanya dengan satu lembar kanvas atau kertas. Disitu terdiri dari 9 (Sembilan) elemen, meliputi customer segment, value proposition, customer relationship, channel, key activities, key resource, key partner, revenue stream dan cost structure. Kiat terakhir (keempat) setelah membuat perencanaan matang adalah langsung gas pol eksekusinya. Bismillah dengan langkah pertama Insya Allah akan tercipta langkah kedua ketiga dan seterusnya. Disini dibutuhkan kesabaran, ketekunan, semangat yang terus terjaga. Demikian semoga bermanfaat. Aamiin YRA. (Artikel ini telah tayang di Tribun pada, Jum’at, 18.12.2020)

 

Kaprodi S1 Kewirausahaan

Suyatmi, S.E., M.M.