BERITA

NEURO-LEADERSHIP


2021-04-26

Bismillaahirrohmaanirrohiim. Pembaca Tribun yang berbahagia, semoga hari ini Jum’at 19.02.2021 lebih baik dari kemarin. Menurut Dill’s, ada beberapa tahapan otak manusia. Tahapan pertama lingkungan. Kebanyakan dari kita cenderung menyalahkan lingkungan. Misal omset bisnis kita turun, karena pandemi covid-19. Organisasi kemahasiswaan gak jalan, karena pandemi covid-19. Cuti kuliah, karena tidak bisa mengikuti kuliah online gara-gara pandemi.  Andai corona bisa ngomong, kira-kira dia mau ngomong apa? Nah… daripada menyalahkan lingkungan dan kita akan rugi sendiri atau rugi berjamaah, maka Dill’s menyarankan kita untuk naik ketahapan berikutnya yaitu menata kebiasaan baru. Kebiasaan baru itu pada awalnya berat dilakukan, tapi mau tidak mau harus kita paksakan, dan butuh ketegasan. Dari terpaksa lama-lama menjadi terbiasa. Ada seorang ahli mengatakan, bila kita telah melakukan sesuatu yang  baru selama 21 (dua puluh satu) hari berturut-turut, maka  berubah menjadi kebiasaan. Tahapan ketiga dari otak kita adalah mau melakukan upgrade (menambah) ilmu pengetahuan, kemampuan, dan ketrampilan kita. Apa kemampuan yang harus kita miliki untuk mengatasi lingkungan saat ini. Salah satunya dengan meningkatkan kemampuan kepemimpinan (leadership).

Disisi lain, universitas Amikom Yogyakarta baru saja melantik pemimpin baru periode 2021-2025. Kebetulan pemimpin baru tersebut masih diamanahkan kepada pemimpin yang sebelumnya. Dalam memimpin universitas yang besar dan unggulan dunia tersebut, tidak bisa sendirian, dan dibutuhkan dukungan serta kerjasama dari semua civitas akademika universitas sesuai dengan peran dan posisi masing-masing. Sesuai dengan peran kami di direktorat kemahasiswaan yang bertanggunjawab dalam meningkatkan kesejahteraan mahasiswa, mencetak pemimpin-pemimpin hebat dan mencetak mahasiswa wirausaha yang smart, maka selama dua hari, kami mengadakan pelatihan kepemimpinan bagi ketua organisasi kemahasiswaan dengan tema “neuro-leadership”.

Istilah neuro leadership pertama kali diciptakan oleh David Roch pada tahun 2006 dalam strategi dan bisnis publikasi AS. Neuro (neural) menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti berhubungan dengan urat syaraf atau bagaimana menggunakan otak kita. Suatu obyek, bila dilihat oleh beberapa orang yang berbeda, ternyata hasilnya berbeda-beda. Hal itu dikarenakan ada perbedaan, perbedaan pendidikan, pengetahuan, memori, dll. Leadership (kepemimpinan) adalah perihal pemimpin atau cara memimpin. Neuro leadership merupakan ilmu yang menggabungkan kepemimpinan dan fungsi otak. Seperti halnya otak yang tercipta sebagai penentu kebijakan, seperti itu pula otak akan dimintai pertanggungjawaban. Leadership membentuk tanggunjawab dari proses pengambilan keputusan. Dalam proses pengambilan keputusan, terjadi berbagai gejolak emosi merupakan proses interaksi yang amat menarik di otak. Tentu ada resiko baik dan buruk, namun yang lebih penting dari itu adalah kemana kepemimpinan itu bermuara. Pada akhirnya kepemimpinan adalah bentuk tanggungjawab dunia akherat.

Betul banget, saya jadi ingat sebuah hadits yang mengatakan “setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang kepala negara adalah pemimpin atas rakyatnya dan akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin atas anggota keluarganya dan akan diminta perihal keluarga yang dipimpinnya. Seorang istri adalah pemimpin atas rumah tangga dan anak-anaknya dan akan ditanya perihal tanggunjawabnya. Seorang pembantu rumah tangga bertugas memelihara barang milik majikanya dan akan ditanya atas pertanggungjawabannya. Dan kamu sekalian pemimpin dan akan ditanya atas pertanggungjawabannya (HR. Muslim). Bicara soal kepemimpinan bukan soal jabatan, tapi terkait dengan kemampuan mempengaruhi, memotivasi dan mengarahkan orang lain. Demikian semoga bermanfaat, aamiin yra. (Artikel ini telah tayang di Tribun, pada Jum’at 19.02.2021).

 

Kaprodi Kewirausahaan

 

Suyatmi, S.E., M.M.