BERITA

6 KARAKTERISTIK PERUSAHAAN KELUARGA


2021-04-26

Bismillaahirrohmaanirroohiim, pembaca Tribun yang berbahagia, semoga hari ini Jum’at, 11.03.2021 lebih baik dari kemarin. Menurut Jhon L. Ward dan Craig E. Aronoff, suatu perusahaan dinamakan perusahan keluarga apabila minimal 2 (dua) orang anggota keluarga ikut mengawasi keuangan perusahaan. Sedangkan menurut Robert C. Donelley, suatu perusahaan dikatakan perusahaan keluarga apabila terdapat minimal 2 (dua) generasi ikut terlibat dan mengambil kebijakan perusahaan. Secara karakteristik, perusahaan keluarga memang unik dan berbeda dengan perusahaan biasa pada umumnya. Ada 6 (enam) karakteristik perusahaan keluarga, yaitu adanya keterlibatan keluarga, lingkungan pembelajaran yang saling berbagi, tingginya saling keterandalan,  adanya kekuatan emosi, kurang formal, dan kepemimpinan ganda.

Adanya keterlibatan keluarga. Dimulai apabila anak-anak atau generasi kedua mulai masuk ke manajemen, ketika isu-isu perusahaan mulai muncul dan butuh perhatian serius. Sejak kecil anak-anak sudah dimagangkan, misalnya membantu layanan penjualan di toko. Kemampuan tawar menawar dan perhitungan sudah di luar kepala sejak kecil. Karena keterlibatan sudah tinggi, maka komitmen terhadap bisnis juga tinggi. Bahkan mereka punya tekad dan semangat untuk mengerjakan sesuatu dengan lebih baik dan ingin mengembangkan bisnis keluarganya. Hal itu didukung kemauan orang tuanya agar mereka kelak meneruskan bisnisnya. Keterlibatan anggota keluarga juga bisa berawal dari dimasukkan suami/istri, saudara ke dalam perusahaan, untuk terlibat dalam operasional maupun kegiatan strategis perusahaan.

Lingkungan pembelajaran yang saling berbagi. Adanya keterlibatan anggota keluarga yang tinggi dengan melibatkan anak-anak magang, menimbulkan komitmen dan kepedulian mereka terhadap bisnis keluarga. Bahkan membentuk lingkungan dimana setiap saat setiap waktu mulai dari pagi sampai malam, dalam semua moment-moment keluarga, yang dibicarakan adalah bisnis. Alhasil tumbuh juga jiwa bisnis bahkan sampai meresap dan mendarah daging sehingga kurva pembelajaran menjadi lebih cepat bagi mereka.

Tingginya saling keterandalan. Adanya keterlibatan anggota keluarga dan lingkungan pembelajaran yang saling berbagi, dapat menimbulkan kemampuan tim yang dapat diandalkan. Mereka sudah mengetahui dan mampu mengerjakan tugas masing-masing. Sehingga ketika suatu saat pimpinan perusahaan sedang tidak ditempat, semua pekerjaan berjalan lancar dan sukses. Misalkan ketika sang pemimpin ada urusan ke luar kota atau bahkan luar negeri beberapa hari atau beberapa minggu, dia tidak merasa khawatir, karena merasa anggota keluarga yang terlibat tadi memiliki komitmen, ilmu dan kemampuan yang sama dengan dia.  

Adanya kekuatan emosi. Perusahaan keluarga dikelola secara emosional, sehingga rasa kekeluargaan di dalamnya tinggi. Karyawan sering dianggap sebagai anak dan orang-orang lama dianggap sebagai keluarga. Para manajer menggunakan pendekatan pribadi dan memberikan kepercayaan kepada para karyawannya. Oleh karena itu perusahaan keluarga cenderung lebih stabil.

Kurang formal. Walaupun sudah ada aturan, SOP (Standar Operasional Prosedur), karena kecintaan pemilik perusahaan pada pekerjaan dan bisnisnya mengakibatkan dia sering terlibat dalam kegiatan operasioanal perusahaan sehari-hari. Hal itu mengakibatkan kerancuan dan kebingungan di pihak karyawan, bahkan sampai ada karyawan stres dengan ulah bosnya itu.

Kepemimpinan ganda. Di setiap fungsi dan divisi tentu ada yang menjadi pemimpin. Namun demikian, intervensi dari pihak keluarga tetap tinggi. Meskipun sudah ada eksekutif professional, komisaris masih turun juga ke bagian operasional sehingga membingungkan anak buahnya.  Di Indonesia dikenal dua sistem dewan, yaitu dewan komisaris dan dewan direksi. Pada kenyataannya, seringkali dewan komisaris hanya sebagai formalitas. Demikian semoga bermanfaat, aamiin YRA. (Artikel ini telah tayang di Tribun, Jum’at, 11.03.2021).

 

Kaprodi Kewirausahaan

 

Suyatmi, S.E., M.M.