BERITA

BERKENALAN DENGAN PRODUK SENDIRI


2021-04-26

Bismillaahirrohmaanirrohiim.
Assalamua’alaikum wr.wb.

Dalam beberapa terakhir Business Model Canvas banyak dimanfaatkan untuk memetakan bisnis, baik itu dari kalangan UMKM maupun kalangan akademik. Model ini diusulkan atau ditemukan oleh Alexander Osterwalder pada tahun 2005, pada tahun 2008 Alexander Osterwalder merilis Business  Model Canvas (BMC) tersebut. Business Model Canvas terdiri dari 9 blok yang dibagi menjadi 3 kelompok, kelompok pertama yaitu pemasaran yang terdiri dari : Channel, Segmentasi, Customer Relationship, kelompok kedua yaitu sumberdaya, yang teridiri dari : Value proposition, Key Partner, Key Activities dan Key Resources, kelompok ketiga yaitu keuangan, terdiri dari : Cost Structure dan Reveneu Stream.

Pada Business Model Canvas yang dikembangkan oleh Alexsander Osterwalder ini, bisnis dimulai pada Value Propositon yang kemudian dikembangkan sendiri menjadi Value Proposition Canvas. Dalam Value Proposition Canvas dibagi menjadi dua bagian, yaitu : 1. Profil Pelanggan (bagian berbentuk lingkaran), 2. Peta Nilai (bagian berbentuk kotak).

Sumber : Strategyzer.com

Pada profil pelanggan ada 3 bagian yang harus dipahami, yaitu, a) Gains yang berarti harapan atau hasil yang ingin dicapai oleh pelanggan, b) Pains yang berarti kesulitan atau risiko yang dirasakan pelanggan jika membeli produk anda, c) Profil pelanggan (Customer Jobs) merupakan hal yang ingin dicari solusi atas permasalahan pelanggan. Pada Peta Nilai terdapat 3 bagian, yaitu, a) Gains Creator yang berisi bagaimana produk atau jasa anda memenuhi harapan dari pelanggan, b) Pain Relievers ini menjawab kesulitan atau resiko yang dirasakan oleh pelanggan atas produk yang diinginkan, c) Produk & Service yaitu Produk dan jasa yang menciptakan gains dan mengurangi pains, dan penentu penciptaan value/nilai lebih bagi customer. Bisa dikatakan bahwa value Proposition merupakan identitas pada produk atau jasa itu sendiri, dapat juga disebutkan bahwa dengan memahami value proposition anda dapat memahami kekuatan, kelemahan, peluang dan ancama pada produk anda.

Dengan value proposition desain anda lebih bisa memahami peran produk anda, hal ini sangat menentukan dalam melakukan segmentasi atau profiling pelanggan. Semakin kita memahami produk yang kita miliki maka kita juga akan semakin memahami kepada siapa produk akan kita jual. Hal ini membuat saya teringat pada salah satu materi Pelatihan Super Unggul (PSU) untuk calon mahasiswa Universitas Amikom Yogyakarta, dimana salah satu materinya berisi tentang membangun identitas diri, yaitu cara untuk memahami peran kita saat ini dan kedepannya, sehingga hari esok akan lebih baik dari hari ini dan hari kemarin. Semakin memahami peran yang kita lakukan, Insha Allah Amin pintu kemudahan dan arah kesuksesan akan semakin dekat. Dengan memahami peran yang kita lakukan, kita juga akan memahami batasan pada kebaikan dan kebenaran yang akan kita lakukan.

Dalam Value Proposition Desain semakin banyak data gain dan pain dari profil pelanggan didapatkan maka akan semakin banyak pilihan yang dapat kita berikan pada gain creator dan pain relievers, maka akan semakin kuat identitas pada produk yang dibuat. Data pada Gain dan Pain menjadikan batasan atau posisi pada produk yang dibuat. Dengan Value Propositon Desain kita diajak untuk mengenal produk kita sendiri, untuk memahami hal ini tentu memerlukan investasi yang tidak sebentar terutama dari sisi pengetahuan. Karena pada dasarnya dalam bisnis ada 2 hal yang perlu kita pahami yaitu berhasil dan belajar. (Artikel ini telah tayang di KR, Senin 22-02-2021).

 

Dosen Prodi S-1 Kewirausahaan

 

Yusuf Amri Amrullah, S.E., M.M.