BERITA

BERANI MENGAMBIL RESIKO


2021-05-30

 

Bismillaahirrohmaanirrohiim, pembaca Tribun yang berbahagia, semoga hari ini Jum’at, 30.04.2021 lebih baik dari kemarin. Salah satu karakter seorang wirausaha adalah keberanian dalam mengambil resiko. Dalam dunia usaha, kita mengenal beberapa definisi resiko. Secara umum konsep resiko selalu dikaitkan dengan adanya suatu ketidakpastian di masa yang akan datang.

Bila kita memiliki uang yang akan diinvestasikan. Kita dapat memilih menabung di bank yang hanya memberi bunga sebesar ± 5% yang pasti kita dapatkan setiap bulannya.  Atau menginvestasikan dalam bentuk bisnis kuliner dengan potensi keuntungan 300%. Tetapi dengan potensi keuntungan yang besar itu, kita juga memiliki resiko ketidakpastian, yaitu resiko hasil keuntungan.

Resiko yang sering dijumpai dalam bisnis, khususnya start-up bisnis adalah resiko murni dan resiko spekulatif. Resiko murni merupakan resiko yang muncul sebagai akibat dari sebuah situasi atau keputusan yang konsekwensinya adalah kerugian. Contoh resiko murni : 1) resiko rusak atau hilangnya aset yang dimiliki diakibatkan oleh kebakaran, pencurian, penggelapan, dll. 2) kecelakaan kerja pada proses produksi. 3) resiko akibat tuntutan hukum pihak lain, misal keracunan dari makanan yang kita jual, tuntutan konsumen akibat kelalaian kita, dll. 3) bencana alam (force majeure) seperti banjir, gempa, tsunami, angin topan, dll.

Resiko kedua adalah resiko spekulatif, yaitu resiko yang muncul akibat situasi atau keputusan yang konsekwensinya bisa berupa keuntungan ataupun kerugian. Contoh resiko spekulatif, 1) resiko perubahan harga. Harga dapat berubah-ubah, kadang naik kadang turun. Bila harga bahan baku naik, wirusaha dapat mengalami penurunan margin keuntungan, begitu juga sebaliknya. Ketika harga jual naik, wirausaha akan mendapat keuntungan margin, begitu juga sebaliknya. 2) resiko kredit, yaitu resiko yang muncul dari transaksi kredit, seperti utang dagang. Bila pihak yang kita berikan kredit mengalami gagal bayar maka kita akan mengalami kerugian.

Resiko dapat menimbulkan kerugian langsung maupun tak langsung. Bila jumlah nominal yang harus ditanggung akibat dampak langsung dari resiko itu namanya kerugian langsung. Misalkan bila kios kita yang ada di pasar terkena kebakaran, maka jumlah rupiah dari barang dagangan yang hangus terbakar ataupun kerusakan kios, merupakan bentuk kerugian langsung. Kerugian tidak langsung berupa poteni dari keuntungan barang dagangan yang telah terbakar tadi. Setiap resiko dapat dikelola dengan 4 pilihan strategi yaitu dikontrol, ditransfer kepada pihak lain, dibiayai sendiri atau dihindari. 

Tips praktis yang dapat digunakan oleh wirausaha pemula untuk mengelola resiko yang mungkin terjadi: 1) Pahamilah bahwa resiko yang dihadapi bukanlah penghambat untuk maju. Resiko harus disikapi sebagai konsekwensi karena kita menginginkan sesuatu yang lebih baik (keberhasilan).  Hukum alam, semakin tinggi hasil yang kita inginkan, semakin besar resiko yang harus dihadapi dan dikelola. 2) Tidak perlu panik. Dengan cara mengidentifikasi resiko apa berpotensi muncul, mulai dari lingkungan sekitar, hubungan dengan pemasok, pelanggan maupun kompetitior, serta dari internal bisnis. Kemudian tentukan seberapa sering muncul dan seberapa besar potensi dampak yang mungkin terjadi. 3) Siapkan langkah-langkah mitigasi resiko “hanya” pada resiko yang dominan atau prioritas. Dapat menggunakan pendekatan “manfaat-biaya”, dengan menghitung berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk mengelola resiko dan pastikan manfaat yang kita dapatkan dari pengelolaan resiko tersebut lebih besar dari biaya yang kita keluarkan. Demikian semoga bermanfaat, aamiin yra. (artikel ini telah tayang di tribun, Jum’at, 30.04.2021).


Kaprodi Kewirausahaan

 

Suyatmi, S.E., M.M.