BERITA

POTRET PENJUAL SELONGSONG KETUPAT


2021-05-30

  

Bismillaahirrohmaanirrohiim, pembaca Tribun yang berbahagia, semoga hari ini Jum’at 14.05.2021 lebih baik dari kemarin. Hari ini merupakan hari ke-2 lebaran, penulis mengucapkan selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir batin. Salah satu hidangan khas saat lebaran adalah ketupat. Ketupat, makanan terbuat dari beras yang dimasukkan ke dalam anyaman pucuk daun kelapa, berbentuk kantong segi empat dan sebagainya, kemudian direbus, dimakan sebagai pengganti nasi (KBBI). Ketupat menjadi makanan yang digemari karena memiliki tekstur yang lebih kenyal dan rasa yang lebih gurih dibanding produk olahan beras lainnya.

Ketupat atau kupat pertama kali masuk ke Indonesia saat Sunan Kalijaga menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa, sekitar abad ke-15. Saat itu Sunan Kalijaga menggunakan ketupat sebagai simbol atas perayaan Idul Fitri. Kupat dapat berarti ngaku lepat (mengakui kesalahan) atau laku papat (perilaku 4), meliputi lebaran (usai), luberan (melimpah), leburan (melebur) dan laburan (kapur).

Lebaran menunjukan bahwa ketika makan ketupat maka waktu puasa sudah selesai, pintu maaf dan ampunan terbuka lebar. Luberan merupakan bentuk kepedulian sesama manusia dengan saling berbagi, diantaranya mengeluarkan zakat fitrah saat menjelang lebaran. Leburan artinya saat Idul Fitri maka segala dosa dan kesalahan akan diampuni, oleh karena itu diharuskan saling memaafkan. Laburan bermakna selalu meninggalkan jejak putih, mengajarkan untuk berbuat baik dan menjaga kesucian lahir batin.

Peningkatan kebutuhan ketupat dibarengi dengan ketidakmampuan konsumen membuat sendiri, membawa berkah dan peluang bisnis bagi seseorang yang memiliki jiwa kewirausahaan. Jelang lebaran, pasar Stan Maguwoharjo Depok Sleman, dihiasi selongsong ketupat yang dijual para pedagang musiman. Begitupun di grup WA, ada warga yang sudah bertahun-tahun jualan kulit ketupat. Bahkan di Lotte Mart Maguwo juga tersedia, dan pasar-pasar lain di Indonesia.

Menurut laporan ayosemarang.com, penjual selongsong ketupat di pasar Peterongan Semarang hadir secara dadakan pada H-2 lebaran. Mereka menjual di emperan pasar, karena tidak jualan setiap hari. Selongsong ketupat dijual dengan harga Rp 15.000 per ikat (isi 10 biji). Omset yang didapat mencapai Rp 1 jt dalam 2 hari. Cara mendapatkan bahan baku selongsong ketupat, dengan membeli ke penjual janur yang datang pagi hari di lokasi. Satu tangkai janur yang berisi banyak janur, harganya sekitar Rp 35.000 s.d. Rp 40.000. Para pedagang selongsong tinggal membawa pisau saja, dan merangkai selongsong ketupat di tempat. Ada juga pedagang yang membeli bahan baku selongsong ketupat di daerah Salatiga, dimana bahannya lebih bagus dan harganya berbeda (sudah langganan).

Dari berbagai sumber yang kami rangkum, selongsong ketupat dijual dengan harga sekitar Rp 10.000 s.d. Rp. 20.000 per ikat (10 biji). Baihaki, salah satu pedagang selongsong ketupat di salah satu pasar di Jakarta, biasanya meraih omset sekitar Rp 2,5 juta dengan modal kurang lebih Rp 500.000. Saat pandemi dia masih mampu menjual setengahnya dengan harga yang sudah diturunkan menjadi Rp 1.000 per biji. Berbeda dengan Jumroni, pengusaha selongsong ketupat dari Banten, dia mendapat omset Rp 38,7 juta. Dia melayani pesanan partai besar maupun eceran. Partai besar dia patok harga Rp 700 per biji sedang harga eceran Rp 1.000 per biji. Wow… luwar biasa ya.. semoga dapat menambah keberkahan bagi yang jual maupun yang beli. Demikian semoga bermanfaat, aamiin yra. (Artikel ini telah tayang di tribun, Jum’at 14.05.2021).

 

Kaprodi Kewirausahaan

Suyatmi, S.E., M.M.