BERITA

ADD-ON  


23 Apr 2019

 

Bismillaahirrohmaanirrohiim. Pembaca Tribun yang berbahagia, semoga hari ini Jumat 19.04.2019 lebih baik dari kemarin. Ketika akan memutuskan sebuah pilihan suatu produk, kadang kita bingung. Apakah membeli produk yang murah tetapi kita hanya mendapatkan fungsi dasar dari produk tersebut, atau membeli produk yang agak mahal tetapi kita mendapatkan kepuasan dan manfaat tambahan dari produk tersebut. Misalkan ketika akan membeli tiket pesawat terbang, menginap di hotel, membeli makanan dan lain sebagainya.

Add-on adalah sebuah model bisnis dimana perusahaan menambah biaya ekstra (tambahan) untuk produk tambahan atau layanan tambahan. Produk adalah sesuatu yang dapat ditawarkan ke pasar untuk diperhatikan, dipakai, dimiliki atau dikonsumsi dan digunakan sehingga dapat memuaskan keinginan dan kebutuhan konsumen. Atau dengan kata lain produk merupakan barang atau jasa yang dapat diperjualbelikan.

Produk itu sendiri memiliki beberapa level atau tingkatan yaitu pertama produk dasar (basic product) yaitu fungsi dasar dari sebuah produk. Misalkan pesawat terbang, fungsi dasarnya untuk transportasi atau perjalanan melalui udara. Sehingga dibutuhkan tempat duduk, tempat menaruh barang serta toilet.  Kedua produk yang diharapkan (expected product) yaitu produk yang diharapkan dari suatu produk. Contohnya, orang naik pesawat harapannya selamat,  nyaman, aman, tempat duduk dan toilet bersih dan wangi serta bebas dari kuman. Ketiga produk tambahan (augmented product) yaitu produk tambahan dari suatu produk, contohnya produk tambahan dari pesawat terbang adanya layanan makanan, dan bagasi. Keempat produk potensial (potencial product) yaitu produk yang memiliki potensi dimasa depan.

Pola model bisnis add-on, perusahaan menawarkan harga yang kompetitif dan sejumlah fitur layanan atau produknya akan mempengaruhi harga akhir. Dipenghujung transaksi pelanggan membayar lebih mahal daripada yang diduga sebelumnya namun mendapat manfaat dari opsi-opsi yang dipilih sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Contohnya adalah tiket pesawat terbang. Pelanggan membayar harga dasar tiketnya yang murah, namun biaya totalnya lebih mahal karena termasuk biaya tambahan (add-on) lain seperti biaya makanan dan bagasi. Ketika kita sedang di menginap di hotel, pada malam hari lapar, maka di hotel sudah tersedia berbagai minuman dan makanan yang harganya lebih mahal dibandingkan bila  beli di luar hotel. Begitu juga yang diterapkan oleh “Sega”, yang merupakan perusahaan pengembang software, hardware dan video game yang berpusat di Jepang dan memiliki beberapa divisi di seluruh dunia. Perusahaan ini menjadi yang pertama menerapkan model bisnis add-on di bidangnya. Sega menyediakan fitur tambahan dalam bentuk produk video game yaitu Downloadable Content (DLC) atau konten yang dapat di download atau diunduh. Selain dari konsep add-on, Sega juga mendapat keuntungan dari penjualan game itu sendiri dan DLC-nya, sedangkan pelanggan mendapat manfaat dari pilihan fitur tambahan pada video game mereka. Pola seperti ini banyak juga digunakan dalam industri mobil untuk menawarkan fitur dan tambahan dengan harga lebih mahal pada versi produk mobil tertentu.

Secara umum, pola add-on memerlukan strategi penentuan harga yang rumit. Produk utamanya harus dipasarkan secara efektif dan seringkali ditawarkan dengan harga yang sangat murah. Model bisnis ini sangat cocok untuk pasar yang sulit dikelompokkan, karena keinginan konsumen sangat beragam. Demikian semoga bermanfaat. Amin YRA. (Sumber : Tribun Jogja 19 April 2019).

 

 

Kaprodi Kewirausahaan

Suyatmi, SE., MM.