BERITA

CROWDFUNDING


15 Aug 2019

Bismillaahirrohmaanirrohiim. Pembaca Tribun yang berbahagia, semoga hari ini Jumat 09.08.2019 lebih baik dari kemarin. Salah satu kendala untuk merealisasikan ide bisnis kita adalah belum memiliki dana sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan. Solusinya bagaimana? pinjam? kerjasama dengan investor?  urunan dana/pendanaan bersama (crowdfunding)?. Crowdfunding merupakan pola bisnis yang mengalihkan pendanaan suatu pekerjaan kepada masyarakat umum. Tujuannya untuk membatasi pengaruh investor professional. Prosesnya dimulai dengan tahap pengumuman untuk memberitahu kepada masyarakat bahwa ada pekerjaan yang memerlukan dukungan pendanaan. Crowdfunding pertama kali untuk membangun kuil atau bangunan lainnya. Sekarang, dengan perkembangan internet dan platform urunan dana, pola ini menjadi semakin menarik bagi pengusaha maupun perorangan.

Tahun 1997 salah satu grup band rock asal Inggris bernama Marillon, berhasil menggalang dana dari para penggemarnya melalui internet untuk mengadakan tur keliling Amerika Serikat setelah meluncurkan album pertamanya dan mendapat kontrak rekaman.

Perusahaan lain yang berhasil menerapkan model bisnis ini diantaranya Pebble Technology. Tahun 2009, Pebble meluncurkan proyek penggunaan platform urunan dana bernama Kickstarter. Target dana terkumpul US$ 100.000 untuk memproduksi jam tangan Pebble. Jam tangan Pebble adalah jam yang dapat terhubung dengan smartphone melalui Bluetooth. Pengguna jam dapat menerima telpon dan pesan teks atau email langsung melalui layar jam tangan. Dalam waktu 2 jam setelah dilaunching, Pebble berhasil mengumpulkan dana US$ 10.000.000 (100 kali lipat dari yang diharapkan).

Contoh crowdfunding di Indonesia yang sekarang sedang naik daun yaitu kitabisa.com. Kitabisa.com adalah website untuk menggalang dana dan berdonasi secara online dan transparan. Sejak tahun 2013, kitabisa.com telah menyediakan wadah dan teknologi  online bagi individu, komunitas, organisasi maupun perusahaan untuk beragam tujuan sosial, personal, kreatif dan lainnya. Sebagai social entreprise startup, kitabisa mengenakan biaya administrasi sebesar Rp 5% dari total donasi di sebuah penggalangan, kecuali penggalangan bencana alam dan zakat (0% biaya administrasi). Dengan model ini, kitabisa fokus mengembangkan teknologi dan layanan untuk terus mempermudah kegiatan menggalang dana dan donasi di Indonesia maupun dunia.

Pemberi dana bersifat perorangan atau kelompok dan mereka bebas memilih jumlah dana yang ingin mereka investasikan serta dipekerjaan mana dana itu diinvestasikan. Sebagai imbalannya, pemberi dana akan menerima hadiah yang terkait dengan pekerjaan itu antara lain produk hasil pekerjaan itu atau keuntungan khusus seperti bonus. Pemberi dana biasanya tidak terlalu mengharapkan pengembalian uang, namun mereka cenderung ingin membantu agar proyek itu tuntas. Agar pemberi dana mau berinvestasi, maka perlu adanya penetapan batas iurannya. Bagi pelaksana pekerjaan (pengusaha pemula/startup), pola crowdfunding merupakan kesempatan yang unik untuk memperluas cakupan investor sehingga makin besar peluang untuk mendapatkan pendanaan yang menguntungkan. Selain itu, pengumuman pekerjaan diawal juga dapat dimanfaatkan sebagai iklan gratis bagi pelaksana dan berdampak positif terhadap kesuksesan produk yang dihasilkan kelak. Sekian, semoga bermanfaat, amin YRA. (Sumber, Tribun Jogja : Jumat, 8 - 8 - 2019)

 

Kaprodi S1 Kewirausahaan

Suyatmi, SE., MM.