BERITA

DIVERSIFIKASI PRODUK


05 Oct 2019

Bismillaahirrohmaanirrohiim. Pembaca Tribun yang berbahagia, semoga hari ini Jum’at 27.09.2019 lebih baik dari kemarin. Dalam rangka meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar ekspor, Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional, Kementerian Perdagangan Republik Indonesia bekerjasama dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Propinsi DIY, Rabu 25/09/2019 mengadakan kegiatan seminar dan sekaligus coaching bisnis di Hotel Grand Dafan Rohan Yogyakarta dengan tema “Diversifikasi dan Adaptasi Produk untuk Peningkatan Daya Saing Produk Aplikasi Game”. Alhamdulillah pada acara tersebut saya berkesempatan hadir menimba ilmu dari para narasumber yang sangat luar biasa yaitu Profesor Dr. M. Suyanto, MM dan mas Ivan Chen.

Ivan Chen adalah CEO Anantarupa Studios yang bergerak di bidang pengembang aplikasi game asli Indonesia. salah satu game produknya “Virtual Journey to Indonesia” telah dipamerkan di luar negeri pada even World Expo Milano, Italia. Game tersebut mendapat respon positif, terbukti menjadikan booth Indonesia paling banyak dikunjungi. Prof. Dr. M. Suyanto, MM merupakan rektor universitas Amikom Yogyakarta, sekaligus komisaris MSV Studio yang memproduksi film animasi kelas dunia, film Battle of Surabaya (BOS). Prof Yanto, biasa saya panggil beliau, juga merupakan penulis naskah film tersebut. BOS telah mendapat banyak penghargaan dunia dan sudah laku laris manis di pasar Internasional. Kini film BOS juga akan hadir dalam bentuk game animasi.

Diversifikasi produk merupakan salah satu upaya perusahaan dalam menjamin usahanya tetap berjalan dan berkelanjutan. Diversifikasi produk dilakukan dengan cara menciptakan produk baru untuk segmen pasar yang baru. Misalnya pengembangan produk film animasi dengan segmen pasar para anak muda penggemar film animasi, kemudian dikembangkan produknya berupa game animasi dengan segmen pasar anak muda yang menyukai game animasi. Contohnya Pokemon dahulu kita kenal sebagai film animasi, sekarang sudah ada pengembangan produknya berupa game Pokemon go. Begitu juga film Harry Potter, dulu berupa film animasi, sekarang sudah melakukan diversifikasi produk berupa game Harry Potter. Tahun 2016 pendapatan game Pokemon mencapai 1,2 miliar dollar AS, dan tahun 2017, mencapai 1,8 Miiar Dollar AS. Sayangnya kedua game tersebut merupakan produk impor dari luar negeri, yang banyak penggemarnya di Indonesia.

Game merupakan salah satu subsektor ekonomi kreatif di tanah air. Hampir setiap hari saya menjumpai mahasiswa Amikom ketika sedang istirahat memainkan game melalui smarphonenya. Berdasarkan informasi yang dimuat di id.techinasia.com, pada tahun 2017 industri game Indonesia berada pada posisi ke-16 dalam pasar game terbesar di dunia (versi Newzoo) dengan jumlah pemain hingga 43,7 juta dan potensi penghasilan mencapai US$ 880 juta (sekitar Rp 11,9 Trilyun). Melihat data tersebut, terbuka peluang usaha di bidang game animasi.

Untuk membantu masyarakat yang menginginkan atau mendalami game animasi, di Amikom Yogyakarta telah dibuka jurusan Teknologi Informasi. Di Amikom juga lahir startup game yang telah sukses, yaitu Zamzamy. Zamzamy merupakan broadgame edukasi yang dipadukan dengan Teknologi Augmented Reality untuk memudahkan anak-anak dalam belajar mengaji dan belajar Bahasa Arab. Zamzamy telah mendapat penghargaan internasional tahun 2017 di Malaysia. Mendapatkan pendanaan lebih dari 200 juta rupiah dari Direktorat Jendral Penguatan Inovasi Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi 2019. Serta  meraih Juara 1 Lomba Bisnis Model Kanvas Nasional “Enterpreneur Challenge” yang diadakan di Universitas Negeri Jakarta. Demikian semoga bermanfaat, aamiin YRA.

 

Artikel ini telah tayang di Tribun Jogja, 27-09-2019

Kaprodi Kewirausahaan

 

Suyatmi, SE., MM.