BERITA

MEMBERI DAN MENERIMA


25 Jul 2019

 

Bismillaahirrohmaanirrohiim.

Pembaca Tribun yang berbahagia, semoga hari ini Jumat 19.07.2019 lebih baik dari kemarin. “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah” itulah kata-kata yang sering kita dengar. Artinya bahwa kita sebaiknya banyak memberi daripada meminta. Guru saya mengajarkan carilah “Point bukan koin”. Insya Allah kalau kita banyak mencari “point”, sang “koin” akan mengikutinya”. Point melambangkan banyak memberi dan koin melambangkan hal-hal yang kita terima. Tuk menggambarkan itu ada istilah lain yaitu carilah “jeneng” bukan “jenang”. Dalam konteks bisnis, memberi dan menerima dikenal dengan istilah “Barter”.Barter merupakan sebuah model bisnis yang berwujud pertukaran barang atau jasa antar orang atau organisasi untuk mendapatkan barang atau jasa lain yang serupa. Pertukaran ini hanya mengandalkan barang atau jasa tanpa menggunakan uang. Model bisnis barter dikenal sejak jaman Romawi Kuno. Gaius Cilnius Maecenas, seorang penasehat politik Kaisar Augustus, dianggap sebagai penemu sistem ini. Ia mengembangkan konsep perlindungan sehingga tiap orang atau lembaga akan dibantu tanpa memberikan kontribusi sebagai balasannya. Namun, pemberian ini tidak sepenuhnya untuk kepentingan masyarakat. Maecenas juga menggunakannya untuk kepentingan politik atau ekonominya. Pola barter kemudian dikembangkan dari prinsip ini dan menjadi semakin popular di dunia bisnis sejak tahun 1960-an. Bagaimana apakah saat ini masih ada bisnis yang menggunakan model barter?

 

Tahukan kita, perusahaan multinasional raksasa bisnis produk konsumsi yang berbasis di Ohio dan kini produknya kita pakai sehari-hari merupakan salah satu inovator model bisnis barter paling terkenal. Produknya meliputi pampers, downy, shampoo pantene dan rejoice, ambipur, gillette, vicks, oral-b, olay, dll. Perusahaan tersebut bernama P&G. P&G bekerjasama dengan stasiun TV dan radio

untuk mempromosikan merek dan produknya dalam bentuk barter. P&G mensponsori dan memproduksi acara TV/radio secara gratis kepada stasiun TV/radio. Dengan memberi itulah maka menerima manfaat pemasaran dan mendapatkan penonton/pendengar. Sedangkan stasiun TV/radio

menerima materi hiburan secara gratis. P&G dapat menjangkau segmen pelanggan yang lebih luas dengan biaya yang lebih efektif serta meningkatkan kepopuleran produk utama termasuk pendapatannya. Model bisnis barter seperti itu juga kami ajarkan di Program Studi S1-Kewirausahaan

Amikom Yogyakarta di mata kuliah Broadcasting. Di mata kuliah tersebut diajarkan bagaimana mahasiswa dapat membuat sebuah acara TV/Radio yang dapat dipakai sebaai media promosi produknya. Untuk mempraktekkan hal itu, Amikom telah menyediakan sarana belajar berupa stasiun TV yang sudah Bapak/Ibu/saudara pirsani sehari-hari yaitu RBTV. Dan untuk acara di radio, Universitas

Amikom Yogyakarta juga menyediakan sarana belajar yaitu Radio MQ.Fm.

 

Pola bisnis barter kini juga marak ditemukan di internet. Salah satunya adalah barter via youtube. Mahasiswa yang kami ajarkan di mata kuliah kewirausahaan, dia membuat video animasi pembelajaran untuk anak-anak dengan brand “buku harian anak”. Video tersebut dia upload di Youtube secara gratis dan youtube dapat materi video dari mahasiswa Amikom tersebut juga secara gratis.  Manfaat bisnis yang didapat adalah mahasiswa Amikom mendapatkan penghasilan dari Youtube serta Youtube dapat pemasukan dari perusahaan yang memasang iklan melalui Youtube. Bapak Ibu Saudara dapat melihat video-vidio tersebut dengan cara mengetikkan “buku harian anak di youtube. Salah satu link video mahasiswa kami   https://www.youtube.com/watch?v=M36KoUjzrHE&feature=youtu.be.  Penghasilan mahasiswa tersebut bulan Mei dan Juni 2019 lebih dari Rp. 35juta. Demikian semoga bermanfaat, amin YRA.

 

Kaprodi Kewirausahaan

 

Suyatmi, SE., MM.