BERITA

MESIN UANG


01 Aug 2019

 

Bismillaahirrohmaanirrohiim. Pembaca Tribun yang berbahagia, semoga hari ini Jumat 26.07.2019 lebih baik dari kemarin. Salah satu kendala dalam menjalankan bisnis adalah keterbatasan dana yang kita miliki. Padahal kita harus menjalankannya mulai dari mendapatkan bahan baku berkualitas dengan harga murah dan siap ketika dibutuhkan sampai dengan menjualnya. Bahan baku yang sudah kita peroleh diproses menjadi barang jadi dan akhirnya dijual ke konsumen. Konsekuensi dari itu kita harus membayar bahan baku kepada supplier dan kita juga akan mendapatkan uang dari konsumen yang telah membeli produk kita. Rentang waktu antara kita membayar bahan baku kepada supplier dengan kita menerima uang dari konsumen yang membeli produk kita itulah yang dinamakan mesin uang. Dengan kata lain, mesin uang adalah pola menjalankan usaha yang memiliki siklus kas negatif. Agar dapat menjalankan siklus kas negatif, kita harus menghasilkan pendapatan lebih cepat daripada pembayaran barang yang dipasok oleh pemasok.

Model bisnis mesin uang telah diterapkan oleh perusahaan internasional yang produknya laris manis di Indonesia, yakni Dell. Dell merupakan perusahaan bidang teknologi informasi produsen komputer beserta dengan asesoriesnya. Dell didirikan pada tahun 1984 dengan modal sebesar US$ 1.000 oleh Michael Dell. Pada awal berdiri Dell menerapkan model bisnis mesin uang. Dell membayar klien (pemasok)  rata-rata 71 hari, sementara pembayaran dari pelanggan rata-rata ditagih dalam 30 hari. Hasilnya, Dell memiliki siklus konversi  kas negatif sangat besar.

Perusahaan online bisnis raksasa dunia yaitu Amazon, juga memiliki siklus kas negatif selama 14 hari. Amazon telah memastikan perputaran inventaris yang sangat cepat. Selain itu, Amazon juga memiliki posisi tawar yang memadai dengan pemasoknya untuk mendapatkan jangka waktu pembayaran yang panjang. Karena gabungan kedua faktor tersebut, Amazon tidak harus membayar pemasok sebelum pelanggan membayar produk yang dibeli. Itu contohnya perusahaan luar negeri semua bu Yatmi, apakah ada perusahaan yang di Indonesia atau bahkan di Yogyakarta?

Pak Budi, saya akan menyewa rumah Bapak selama 2 tahun” kata Prof Yanto (Rektor Amikom) pada awal akan mendirikan Amikom. Pak Budi adalah pemilik rumah yang berlokasi di Jalan Wolter Monginsidi Yogyakarta.  “Oh ya, silakan. Rumah itu masih kosong” jawab Pak Budi. “Saya akan mulai menyewa bulan Maret ini pak, tetapi saya akan membayar pada bulan Agustus dan September” kata Prof Yanto. “Lho kok begitu” tanya Pak Budi. “Sebab saya tidak punya uang” jawab Prof Yanto. Agustus dan September diperkirakan Prof Yanto sudah punya uang dari pembayaran SPP mahasiswa. Akhirnya dengan model bisnis mesin uang tersebut, Amikom sukses sampai sekarang.

Pola ini akan dapat bekerja dengan baik jika digunakan dalam bisnis yang melayani atau memproduksi barangnya berdasarkan pesanan atau permintaan atau yang memiliki jangka waktu pembayaran pemasok yang panjang. Kita menerima pembayaran atau jasa yang dilakukan sesegera mungkin, namun harus menunggu selama mungkin untuk membayar pemasok. Dalam rentang waktu tersebut, likuiditas yang kita miliki dapat kita manfaatkan untuk keperluan bisnis kita. Kita dapat menggabungkan model bisnis mesin uang dengan model berlangganan, karena pelanggan membayar di awal, baru kemudian menerima barang atau jasa yang dipesan. Model bisnis mesin uang, kini yang kita kenal dengan model pembayaran di belakang atau bermodal otak. Demikian semoga bermanfaat, amin YRA.
Sumber Tribun jogja (2019-07-26).

 

Kaprodi Kewirausahaan


Suyatmi, SE., MM.