BERITA

REKAYASA BALIK


20 Nov 2019

REKAYASA BALIK

 

Bismillaahirrohmaanirrohiim. Pembaca Tribun yang berbahagia, semoga hari ini Jum’at 01.11.2019 lebih baik dari kemarin. Rekayasa balik (reverse engineering) pertama kali diterapkan pada perang dunia pertama dan perang dunia kedua. Pada waktu itu, dorongan untuk memahami sistem transportasi dan persenjataan lawan sangat tinggi, apalagi dipicu dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat. Ketika mendapatkan persenjataan atau barang sitaan dari lawan, kemudian dipelajari dengan metode rekayasa balik. Hasil dari kajian tersebut kemudian dibagikan kepada militer kawan. Nah, setelah perang dunia kedua selesai, metode ini dipakai oleh seorang peneliti di Jerman Timur untuk merekontruksi dan menyalin beberapa teknologi komputer dan perangkat keras tertentu.

Dalam konteks bisnis, rekayasa balik merupakan model bisnis, dimana kita menganalisis teknologi baru atau produk pesaing dengan tujuan untuk mengembangkan produk lain yang serupa atau cocok dengan produk tersebut. Harapannya, produk yang dihasilkan dapat dijual dengan harga yang lebih murah daripada produk sejenis di pasaran. Untuk itu perlu didukung riset dan pengembangan produk yang bagus. Rekayasa balik ini tidak terbatas pada pengembangan produk (barang atau jasa), tetapi dapat juga diterapkan dalam keseluruhan model bisnis.

Pada dekade tahun 1970-an dan tahun 1980-an produsen mobil asal Jepang, seperti Toyota dan Nissan, membeli dan menganalisis secara sistematis beberapa mobil buatan Barat agar dapat mengetahui cara membuat mobil berkualitas tinggi. Tiap mobil tersebut dibongkar dan komponennya dianalisis untuk mengetahui fungsi, struktur, dan sifatnya. Dengan didukung oleh sifat asli bangsa Jepang yang suka belajar dan memperbaiki diri serta menggunakan metode sistematik seperti Kaizen dan lingkaran kualitas, maka Toyota dan perusahaan lainnya dapat mengalahkan industri otomotif di Barat. Keren kaaan…

Pada tahun 1990-an, Pelikan (perusahaan asal Swiss yang memproduksi pena, pulpen, kertas, bahan kesenian, aksesories printer dan perlengkapan kantor), telah berhasil menerapkan konsep rekayasa terbalik. Pelikan membuat cartridge tinta dengan meniru beberapa model cartridge printer ternama, kemudian menjualnya dengan harga sangat kompetitif dengan kualitas yang sama. Dengan belajar dari kesalahan dan pengalaman perintisnya, produk tiruan sering kali berpotensi menjadi produk yang sama bagusnya dengan produk aslinya.

Keuntungan apabila kita menerapkan model bisnis rekayasa balik diantaranya adanya efisiensi biaya dan waktu dalam kegiatan penelitian dan pengembangan, mendapatkan ilmu dan pengetahuan tentang produk yang telah terbukti di pasaran serta dapat menjual produk dengan harga yang lebih kompetitif dan kualitas sama atau lebih baik. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai peniruan tersebut melanggar hak kekayaan intelektual pengembang dan penemu aslinya. Untuk mengantisipasi hal itu sebaiknya kita belajar tentang Hak Kekayaan Intelektual (HKI).

Belajar dari itu, kami selaku pendidik calon-calon pengusaha di Universitas Amikom Yogyakarta, senantiasa membekali mahasiswa Prodi Kewirausahaan Program Sarjana khususnya dan Program Studi yang lainnya pada umumnya, dengan ilmu pengetahuan tentang inovasi produk, inovasi model bisnis serta Hak Kekayaan Intelektual. Tidak hanya teori, tapi praktek membuat inovasi juga kami kawal.  Karya inovasi yang dihasilkan oleh mahasiswa, kami fasilitasi pendaftaran Hak Kekayaan Intelektualnya melalui sentra HKI Universitas Amikom Yogyakarta tanpa dipungut biaya. Karya inovasi tersebut juga kami dorong untuk mengikuti berbagai kompetisi inovasi baik di tingkat nasional maupun internasional. Suatu karya dikatakan inovatif apabila memberi manfaat bagi innovator, masyarakat maupun perusahaan yang akan memproduksi dan mendistribusikannya. Demikian semoga bermanfaat, aamiin YRA.  (Artikel ini telah tayang di Tribun Jogja, 1 November 2019)

 

Kaprodi Kewirausahaan

 

Suyatmi, SE., MM.