BERITA

ROBIN HOOD


20 Nov 2019

 

Bismillahirrohmaanirrohiim. Pembaca Tribun yang berbahagia, semoga hari ini Jum’at 08.11.2019 lebih baik dari kemarin. Robin Hood adalah tokoh dalam cerita rakyat Inggris. Ia seorang bangsawan yang menjadi musuh Sheriff of Nottingham atau Price John, melawan pejabat yang korupsi untuk kepentingan rakyat. Ia memimpin 140 orang yang disebut Merry Men (https://id.wikipedia.org/wiki/Robin_Hood). Cerita tersebut telah diabadikan dalam berbagai bentuk diantaranya film. Dalam dunia bisnis, cerita tersebut memunculkan istilah model bisnis ala Robin Hood. Meskipun kisah Robin Hood sudah ada sejak abad petengahan, namun model bisnis ini baru ada sekitar tahun 1970-an.

            Konsep model binsis ala Robin Hood merupakan model bisnis yang menjual barang atau jasa kepada orang kaya atau orang mampu dengan harga tinggi, namun dijual murah kepada masyarakat miskin. Labanya diperoleh dari segmen pelanggan kaya tersebut. Melayani segmen pelanggan miskin biasanya tidak menghasilkan laba secara langsung, namun melalui jumlah pembelian yang banyak dan tidak dapat disaingi oleh penyedia barang atau jasa lainnya. Selain itu, mengakomodasi masyarakat miskin dalam model bisnis juga akan berpengaruh positif terhadap citra perusahaan.

Blake Mycoskie, seorang pengusaha toko sepatu bernama Toms Shoes yang berpusat di Santa Monica, California, suatu ketika melakukan perjalanan ke Amerika Latin. Disana dia melihat banyak masyarakat yang menderita penyakit kaki gajah (podocomiosis) karena terkena tanah yang menyebabkan iritasi. Ternyata mereka tidak memiliki sepatu atau memiliki sepatu tapi berkualitas buruk. Melihat kondisi tersebut, Mycoskie tergerak hatinya untuk membantunya. Dia kemudian membuka cabang toko dengan Brand Friend Shoes. Melalui toko tersebut dia mengeluarkan kebijakan “satu untuk satu”. Setiap satu pasang sepatu yang terjual, dia akan mendonasikan sepasang sepatu untuk satu orang miskin. Hanya dalam waktu 4 tahun setelah didirikan, Toms Shoes, berhasil menjual lebih dari 1.000.000 pasang sepatu di lebih dari 25 negara. Pendapatannya semakin meningkat ketika skema ini diterapkan untuk produk kacamata dan busana miliknya.

Pioner model bisnis ini adalah sebuah rumah sakit spesialis mata di India bernama Aravind Eye Care Hospital. Rumah sakit ini didirikan tahun 1976 oleh Dr. Govindappa Ventataswamy untuk memerangi kebutaan yang dialami oleh masyarakat. Lebih dari 60% kebutaan itu disebabkan oleh katarak, yang dapat disembuhkan secara medis melalui proses pembedahan. Sayangnya proses penyembuhan ini dirasa terlalu mahal bagi sebagian besar masyarakat India. Akhirnya dr. Govindappa mengembangkan model bisnis yang mengatur bahwa pasien dari kalangan mampu, membayar penuh biaya operasinya, sementara pasien dari kalangan miskin membayar semampu mereka.  Sebagian besar diantaranya tidak mampu membayar sama sekali. Pendapatan dari kalangan mampu digunakan untuk mensubsidi pengobatan pasien miskin. Meskipun 2/3 pasien menjalani operasi secara gratis, rumah sakit ini masih bisa meraup keuntungan tiap tahun dan sampai sekarang berhasil menyelesaikan lebih dari 2 juta operasi. Subhanalloh….

Dalam Al-qur’an surat Al-Baqarah ayat 261, Allah SWT berfirman yang artinya : “Perumpamaan orang-orang yang mendermakan (shodaqoh) harta bendanya di jalan Allah, seperti (orang yang menanam) sebutir biji yang menumbuhkan tujuh untai dan tiap-tiap untai terdapat seratus biji dan Allah melipat gandakan (balasan) kepada orang yang dikehendaki, dan Allah Maha Luas (anugrahNya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqoroh: 261). Semoga Allah SWT memberi petunjuk dan hidayahNya kepada kita semua, agar disegerakan dan istiqomah bersedekah setiap hari. Demikian semoga bermanfaat, aamiin YRA. (Artikel ini telah tayang di Tribun Jogja, 8 November 2019)

 

Kaprodi Kewirausahaan

 

Suyatmi, SE., MM.