BERITA

TANPA MEREK


28 Oct 2019

Bismillahirrohmaanirrohiim. Pembaca Tribun yang berbahagia, semoga hari ini lebih baik dari kemarin. Judul tulisan ini terinspirasi ketika saya sedang berkunjung ke sahabat lama saya di kota krearif Bandung, beberapa waktu yang lalu. Mas Asep namanya, dia pengusaha sukses di bidang industri kreatif, fashion. Dia ingin mengembangkan usahanya dengan menerapkan model bisnis tanpa merek. Dia menawarkan kerjasama dengan model bisnis tersebut.  Produk yang ditawarkan berupa jilbab. Ia yang memproduksi jilbabnya, kita  yang menjual dengan merek kita sendiri. Apa itu model bisnis tanpa merek atau white label itu?

Model bisnis tanpa merek adalah model bisnis dimana perusahaan membuat suatu produk tapi tidak diberi merek setelah diproduksi. Produk itu dijual oleh beberapa perusahaan dengan merek yang berbeda ke segmen pelanggan yang berbeda pula. Produsen barang tanpa Merek hanya menanggung biaya produksinya saja, sehingga dapat fokus pada efisiensi produksi. Tanpa dipusingkan dengan aktivitas kemasan, distribusi maupun pemasarannya. Pendapatan dari penjualan barang tanpa merek ini akan dapat menambah pendapatan yang sudah diperoleh dari penjualan barang bermerek.

Model bisnis tanpa merek ini juga dapat digunakan untuk menjual sebagian produk dari suatu perusahaan dengan merek yang berbeda. Contohnya Khansa Food, sebuah produsen abon ikan dari Sleman Yogyakarta. Khansa Food memproduksi abon ikan dan memasarkannya sendiri dengan merek Khansa Food. Tapi dia juga membuka peluang bagi pelanggannya yang ingin menjual abon ikan produksinya dengan merek punya pelanggan sendiri. Sudah ada beberapa reseller yang bekerjasama dengan Khansa Food dalam model bisnis ini. Reseller tersebut membeli abon ikannya saja, kemudian dikemas atau di peking dan diberi label dengan merek lain serta dijual kembali.

Selain di bisnis makanan, model bisnis ini juga dapat diterapkan di bisnis percetakan. Printing In A Box, sebuah perusahaan percetakan yang memberikan peluang bagi pelanggannya untuk memulai usaha percetakan online dengan menyediakan semua yang diperlukan untuk memulai usaha percetakan, mulai dari format laman internet dan informasi pemasaran hingga penanganan pesanan dan proses pengiriman. Pelanggan dapat memberi logo dan layout mereka sendiri di situs web dan toko online mereka, serta menjual produk cetak, seperti kop surat, kalender, undangan manten, dll. Ini adalah solusi yang menguntungkan kedua belah pihak. Pelanggan dapat berkonsentrasi pada distribusi, pemasaran dan penjualan hasil percetakan tanpa direpotkan dengan mempelajari proses percetakan dan memiliki mesin cetak. Sedangkan Printing In A Box, berfokus pada produksi tanpa memikirkan biaya dan prasarana tambahan yang diperlukan untuk membuat dan mendistribusikan hasil percetakannya.

Inovator model bisnis tanpa merek ini adalah perusahaan teknologi dari Taiwan yang bernama Foxcorn. Foxcorn memproduksi peralatan dan komponen elektronik untuk merek-merek ternama, seperti Apple, Dell, Intel, dan lain-lain. Diperkirakan 2/3 motherboard komputer yang dijual dengan merek Intel adalah buatan Foxcorn. Apapun mereknya, baik itu Microsoft, Nintendo, atau Sony, setidaknya memiliki satu komponen buatan Foxcorn. Hasilnya Foxcorn dapat memperkaya keahliannya di bidang komputer serta memegang kurang lebih 20.000 hak paten, mempekerjakan hampir 1.000.000 pegawai dan memperoleh pendapatan lebih dari US$ 110 miliar pada tahun 2011.

Bagi mahasiswa atau siapa saja yang ingin menjadi pengusaha dan masih bingung mau buka bisnis apa, sementara mempunyai keterbatasan modal, maka model bisnis tersebut dapat menjadi alternatif pilihan. Demikian, semoga bermanfaat. Aamiin YRA. (Artikel ini telah tayang di Tribun Jogja pada hari jumat, 24.10.19)

 

Kaprodi Kewirausahaan

 

Suyatmi, SE., MM.